Link building adalah salah satu elemen penting dalam proses optimasi website di mesin pencari. Teknik atau strategi ini bahkan sudah ada sejak lama dan dipercaya memiliki pengaruh ekstra untuk meningkatkaan nilai SEO website dibandingkan dengan metode optimasi lainnya. Kendati demikian, sayangnya saat ini justru banyak ditemukan mitos-mitos seputar link building yang berpotensi menyesatkan banyak pengguna.

Bagi para blogger awam misalnya, teknik link building dianggap sebagai aktivitas untuk menanamkan link sebanyak-banyaknya tanpa berpikir soal kualitas atau relevansi dengan tema. Padahal, kita semua tahu bahwa Google sampai saat ini hanya menghitung backlink jenis DoFollow yang mengarah ke dalam website.

Baca juga: Apa Itu Backlink? Bagaimana Tips Cara Mencari Backlink Gratis Berkualitas?

Selain itu, ada satu anggapan lain yang mengatakan bahwa link building sudah tidak relevan lagi untuk mendongkrak posisi website di mesin pencari. Konon kabarnya, peran backlink kini digantikan oleh konten berkualitas yang ditulis berdasarkan riset serta akurasi tinggi. Jadi, asal website memiliki konten kualitas jempolan maka dipercaya mampu menempati posisi pertama.

Nah, untuk menggali kebenaran atas berbagai pernyataan-pernyataan tersebut, pada artikel kali ini kita akan membahas secara khusus mengenai mitos seputar backlink yang perlu diketahui. Sebagai referensi, kami menggunakan fakta-fakta dari algoritma Google terbaru serta ringkasan yang dirilis oleh SEMrush sebagai salah satu tools SEO terkemuka di dunia.

Kira-kira seperti apa pembahasannya? Yuk, langsung saja kita simak bersama-sama.

 

5 Mitos Seputar Backlink yang Perlu Diketahui

Teknik dan metode link building telah mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade terakhir. Jika menilik fakta-fakta yang ada, kita seharusnya sudah bisa move on dan melupakan mitos-mitos seputar backlink dibawah ini.

5 Mitos Seputar Backlink yang Perlu Diketahui
5 Mitos Seputar Backlink yang Perlu Diketahui

1. Mengabaikan Backlink NoFollow Karena Tidak Penting Bagi SEO

Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf pembuka, kita tentu sudah paham betul terkit perbedaan apa itu backlink NoFollow dan DoFollow. Jenis backlink DoFollow merupakan link yang paling bagus untuk SEO karena di-crawl atau diindex oleh robot Google. Alhasil, seiring berjalannya waktu, para blogger kemudian menganggap bahwa backlink NoFollow  adalah sampah sehingga tidak perlu digunakan lagi untuk optimasi website.

Namun, faktanya kehadiran backlink NoFollow masih dianggap Google sebagai metrik minor dalam hal optimasi website. Secara tersirat hal ini terlihat dalam pembaruan algoritma Google pada bulan September 2019 yang bisa diartikan bahwa link NoFollow memiliki kredibilitas dalam menghasilkan traffic dan brand awareness dari website yang relevan.

Baca juga: Peran Link Nofollow dan Dofollow dalam Strategi SEO

2.Membeli Backlink Bakal Menaikkan Ranking dengan Cepat

Poin ini menjadi bahasan menarik dalam beberapa bulan terakhir, terlebih ketika search engine journal membeberkan fakta bahwa ada pemilik website asal AmerikaSerikat yang terkena penalty akibat terindikasi menjual backlink kepada website lain.

Faktanya, berdasarkan peraturan Google, aktivitas jual-beli backlink memang diharamkan dengan resiko berupa penalty atau citra negatif yang masuk kedalam website kita. Salah satu solusinya adalah meletakkan kode atribut rel=”sponsored” di dalam anchor text agar web crawl megetahui adanya aktivitas sponsored backlink.

Dengan adanya kejadian ini, maka cara-cara tidak natural atau semi-blackhat seperti membeli backlink untuk menaikkan ranking tentu bukan lagi menjadi opsi utama yang harus dipercaya oleh pengguna.

 

3.Konten yang Bagus Akan Menarik Backlink Sendiri

Pernyataan ini menjadi mitos berbahaya yang kerap disalah artikan oleh pengguna. Kenapa bisa begitu? Sebagai seorang blogger, pedagang online, atau user biasa, sahabat Qwords tentu paham akan sulitnya  menembus persaingan halaman satu Google. Apalagi, hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna yang hanya melihat konten di peringkat 1-3 tanpa mau repot-repot membuka halaman kedua dan seterusnya.

Rasanya akan percuma jika kalian memiliki konten bagus namun berada di posisi halaman kedua atau ketiga, karena peluang keterbacaaanya lebih rendah dibandingkan konten biasa-biasa saja tapi posisinya berada di halaman pertama.

Maka dari itu, bagaimanapun juga kita tetap membutuhkan backlink untuk meningkatkan ranking atau melakukan branding agar orang lain familiar dengan website kita. Setelah website dirasa cukup populer dan kredibel seperti halnya detik.com, tirto, atau hipwee, maka kita baru bisa memegang teguh prinsip Content Is King yang bisa menaarik backlink sendiri.

 

4. Terlalu Banyak Backlink Bisa Menyebabkan Penalti

Entah darimana asal muasal mitos yang satu ini, akan tetapi berdasarkan algoritma dan rilis yang dikeluarkan Google bisa dipastikan bahwa sebuah ebsite tidak akan terkena penalty hanya gara-gara terlalu banyak menerima backlink.

Sebagai contoh, untuk kegiatan launching startup internasional sekelas Zoom misalnya. Dalam sekali mengeluarkan pers rilis untuk media, mereka akan menerima ratusan atau bahkan ribuan backlink yang mengarah ke website utama dalam waktu sangat singkat. Buktinya, website mereka masih aman-aman saja karena salah satunya berkat kualitas backlink yang dihasilkan tetap terjaga.

 

5. Hanya Backlink dengan DA Tinggi yang Bermanfaat

Para pencari backlink kerap kali menggunakan metrik tertentu untuk patokan dalam membeli. Terkadang nilai Domain Authority (DA) menjadi acuan utama dalam proses seleksi. Hal ini lambat laun memunculkan asumsi bahwa blog dengan DA rendah maka tidak bagus untuk link uilding.

Faktanya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar, pasalnya terkadang website dengan nilai DA tinggi justru berpotensi menimbulkan kecurigaan Google jika isi konten tidak relevan. Dalam hal ini website atau blog dengan domain rendah tentu bisa lebih unggul di mata Google karena lebih relevan dengan apa yang dicari oleh user.

 

mitos link building
mitos link building

Penutup

 

Itulah beberapa mitos seputar backlink dan link building yang perlu di ketahui. Pada intinya, teknik optimasi website merupakan metode yang tidak bisa dibangun dalam sekejap mata, sehingga diperlukan waktu, tenaga, serta kesabaran ekstra agar mendapatkan hasil yang benar-benar sesuai ekspektasi.

Selain mengoptimalkan backlink, salah satu upaya yang bisa kita coba untuk meningkatkan performa website di mesin pencari adalah dengan meningkatkan kinerja web hosting. Gunakanlah paket web hosting terbaik dari provider terpercaya yang reliable serta memiliki support teknis responsif seperti Qwords.com. Dengan begitu website kita tidak akan mudah terdepak dari halaman utama akibat serting down ketika diakses oleh pengguna.

Semoga bermanfaat.

4 Replies to “5 Mitos Seputar Backlink yang Perlu Diketahui

  1. padahal sudah ada niat untuk membeli jasa backlink
    eh ternyata ada resiko penalty dari google
    nggak jadi deh

    1. Perlu hati-hati dalam memilih backlink yang bagus, kalau salah website bisa malah turun.
      Thanks sudah berkunjung di blog Qwords

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *